Rabu, 03 Oktober 2012

Manusia: Mahkluk yang berbadan, berroh, dan berjiwa..


BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
   Manusia selalu mencari kebenaran dengan menggunakan akal sehat maupun dengan ilmu pengetahuan dan sepanjang sejarahnya manusia selalu mempertanyakan tentang dirinya, apakah ia sedang sendirian, yang kemudian menjadi perenungan tentang kegelisahan dirinya, ataukah ia sedang dalam dinamika masyarakat dengan mempertanyakan tentang makna hidupnya ditengah dinamika perubahan yang kompleks, dan apakah makna keberadaannya ditengah kompleksitas perubahan itu. Pertanyaan tentang hakekat manusia merupkan pertanyaan kuno seumur keberadaan manusia dimuka bumi. Dalam jawaban tentang manusia tidak pernah akan selesai dan dianggap tidak pernah sampai final dikarenakan realitas dalam kehidupan manusia selalu baru, meskipun dalam subtansinya tidak berubah.
   Sejak kecil manusia telah terbiasa dengan istilah roh, baik secara lisan maupun di dalam batin. Di dalam perjalanan kehidupan sehari-hari, efek tentang roh di dalam batin itu sangat kuat, bahkan sangat erat kaitannya dengan perilaku orang itu dalam menghadapi setiap aktivitasnya. Mengapa sejak kecil manusia telah terlekati oleh konsep tentang roh tersebut. Secara sportif diakui bahwa pengaruh lingkungan (keluarga, tetangga, dan seterusnya) begitu kuat. Kita semua menyadari bahwa di sekitar kita penuh dengan pandangan sesat tentang roh yang senantiasa ada di dalam tubuh, merasakan, melihat, serta dapat 'bertransmigrasi' ke surga atau ke neraka abadi. Spekulasi ini terus berlangsung, bahkan para ilmuwan yang selalu berasaskan logika dan sistematika berpikir masih terus berspekuIasi dalam usahanya menelanjangi misteri roh.
               Secara biologi. makhluk tersusun atas organ-organ. Organ tersusun atas jaringan-jaringan yang memiliki fungsi unik. Jaringan terbentuk oleh gabungan ribuan bahkan jutaan sel. Sel merupakan bagian terkecil dari makhluk yang mampu beraktivitas hidup. Apabila sel kita urai lagi maka sel tersusun atas komponen sel (organel) yang dibentuk oleh senyawa karbohidrat, protein, lipid, dan asam nukleat. Senyawa-senyawa tersebut berasal dari oksigen. karbondioksida, nitrogen, garam organik, dan ion logam yang umum dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Masalahnya, apakah perbedaan antara zat hidup dan tak hidup. Ciri utama pembeda zat hidup dan tak hidup adalah kemampuan mereplikasi diri menghasilkan zat yang memiliki bentuk, struktur molekul, dan massa yang identik dengan zat asal. Kemampuan ini dimiliki oleh makromolekul DNA RNA. Melihat hal ini, di dalam sebuah surat kabar ibukota diberitakan bahwa ada pendapat dari ahli filsafat biokimia yang mengatakan kalau roh itu ada. maka ada di dalam DNA bahkan menyamakan DNA dengan roh! Agaknya terlalu pagi untuk memberi jawaban 'ya' bagi pernyataan tersebut, sebagai sarana mengubah sistem hidup melalui rekayasa genetika. Pengalaman-pengalaman dalam kehidupan sehari-hari secara global dapat dikelompokkan menjadi enam, yaitu pengalaman melihat, mencium, merasa kecapan, mendengar, pengalaman sentuhan badan, dan pengalaman melalui pikiran. Pengalaman-pengalaman itu menyangkut segi batiniah dan kesadaran yang mengalami tersebut memiliki fungsi yang unik (khas). Munculnya kesadaran tersebut sepenuhnya tergantung pada kondisi. Sebagai contoh, kesadaran melihat adalah hasil. Objek penglihatan mengkondisikan 'melihat' sebagai kesadaran melihat. Apabila tidak ada objek penglihatan, tidak muncul kesadaran melihat. Indera mata, sejenis rupa di dalam mata yang mampu menerima objek penglihatan, merupakan kondisi lain bagi proses melihat. Jadi, kesadaran melihat berbeda dengan kesadaran mendengar, juga berbeda dengan kesadaran lain. Fenomena di atas sangat berbeda pula dengan anggapan 'umum' yang menyatakan bahwa setiap kesadaran mengalami objek yang berbeda itu dialami oleh satu 'roh'.

               Melihat fenomena diatas penulis melihat bahwa manusia terdiri atas unsur jasmani yaitu yang bisa kita tangkap dengan indra, bisa dirasakan dan bisa rusak besifat kebendaan dan unsur roh yang tidak tampak tapi bisa merasakan dan memberi kehidupan bagi jasmani. Karena jasmani atau badan tidak akan berfungsi tanpa roh.




      1.2   Maksud dan Tujuan Penulisan
           
Maksud dari penulisan makalah ini adalah penulis ingin mengetahui dan memperoleh kejelasan mengenai manusia sebagai makhluk yang ber-badan dan ber-roh. Adapun  tujuannya adalah memperoleh bukti bahwa manusia benar sebagai makhluk yang ber-badan dan ber-roh. 

1.3     Identifikasi Masalah

               Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas kami ingin mengetahui :
               1.   Apa sebenarnya pengertian manusia sebagai makhluk yang ber-badan dan ber-roh.
               2.   Adakah hubungannya antara badan dan roh bila dilihat dari ilmu filsafat manusia.

      1.4    Kegunaan Penulisan

               Penulisan makalah ini diharapkan bisa menambah pemahaman mengenai manusia sebagai makhluk yang ber-badan dan ber-roh. Selain itu penulisan makalah ini juga diharapkan bisa menambah informasi dan referensi bagi mahasiswa Universitas Budi Luhur Jakarta dan pihak-pihak lain yang memerlukan pada umumnya.

1.5    Kerangka Pemikiran
        
         Manusia sebagai makhluk yang memiliki keunggulan dan kekhasan dalam berpikir, sehingga selalu ingin mencari kebenaran dan mendapatkan pembuktian mengenai eksistensi dirinya dengan berbagai cara, diantaranya dengan melalui berbagai penelitian. Sehingga diharapkan dengan adanya penelitian ini, maka kita akan bisa mengetahui siapa manusia itu sendiri.

1.6     Premis   

Premis I
               Menurut Niebuhr, jika kita memperhatikan dengan seksama segala pertentangan yang terdapat didalam kodrat manusia, tampaklah dua macam keadaan. Keadaan pertama merupakan ”anak alam, mengalami perubahan, dipaksa oleh kebutuhan – kebutuhan yang mutlak, didorong oleh detak hatinya, dan  terbatas waktunya sesuai dengan bentuk-bentuk organisnya yang beraneka ragam, …”. Keadaan kedua yang penting ialah “bahwa manusia merupakan roh yang berada diluar alam, hidup, dirinya sendri, akalnya, dan dunia”.

               Ini berarti, manusia merupakan makhluk yang keadaan dalamnya terbagi-bagi. Jika demikian, bagaimana kita menjelaskan gejala manusia yang khas ini, menurut Niebuhr jawabnya telah diberikan didalam pandangan Kristiani tentang manusia yang mengatakan, manusia pada hakekatnya merupakan makhluk yang bebas, tetapi juga merupakan makhluk yang berdosa, dan dibuat menurut citra Tuhan.

Premis II
Ada pandangan bahwa manusia hidup di dunia, memiliki 3 unsur yang dikenal dengan istilah "TRIKHOTOMI". Trikhotomi adalah pandangan bahwa natur manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu tubuh, jiwa dan roh. Pandangan ini berdasarkan pada pengertian bahwa, Tuhan menciptakan manusia, dengan memberikan tiga unsur utama di dalam diri manusia yaitu tubuh, jiwa dan roh. Sebagaimana juga dalam pandangan para filsuf Yunani, memandang bahwa tubuh, jiwa dan roh adalah satu kesatuan, yang ada dalam manusia yang hidup.                                                           .

Tubuh adalah unsur lahiriah manusia, unsur daging yang dapat dilihat, didengar, disentuh, dan sebagainya.                                                      .                                                                                     .

Jiwa adalah unsur batiniah manusia yang tidak dapat dilihat. Jiwa manusia meliputi beberapa unsur, pikiran, emosi (perasaaan) dan kehendak. Dengan pikirannya, manusia dapat berpikir, Dengan perasaannya manusia dapat mengasihi dan dengan kehendaknya, manusia dapat memilih.                       .

Roh adalah prinsip kehidupan manusia. Roh adalah nafas yang dihembuskan oleh Tuhan ke dalam manusia dan kembali kepada Tuhan, kesatuan spiritual dalam manusia. Roh adalah sifat alami manusia yang 'immaterial' yang memungkinkan manusia berkomunikasi dengan Allah, yang juga adalah Roh.
                           .                            


1.7     Hipotesis

               Berdasarkan sejarah filsafat, Descartes dan pendukung nya memaparkan bahwa badan dan ruh adalah dua substansi yang berbeda. Yakni jasmani adalah sesuatu dan ruh adalah sesuatu yang lain lagi. Dan manusia adalah hakekat yang tersusun dari dua paduan yang berbeda. Decart mengatakan bahwa sifat aslinya badan adalah perpanjangan, perluasan. Dan sifat aslinya ruh adalah berpikir. Tentunya antara badan dan ruh terdapat suatu hubungan, dan yang menghubungkan keduanya adalah yang ada dalam otak manusia. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa hakekat wujud badan manusia adalah Roh.
              

              


BAB II
PEMBAHASAN
    
      2.1   Siapakah Manusia
Berbicara tentang manusia maka yang tergambar dalam fikiran adalah berbagai macam perfektif, ada yang mengatakan masnusia adalah hewan rasional (animal rasional) dan pendapat ini dinyakini oleh para filosof. Sedangkan yang lain menilai manusia sebagai animal simbolik adalah pernyatakan tersebut dikarenakan manusia mengkomunikasikan bahasa melalui simbol-simbol dan manusia menafsirkan simbol-simbol tersebut. Ada yang lain menilai tentang manusia adalah sebagai homo feber dimana manusia adalah hewan yang melakukan pekerjaan dan dapat gila terhadap kerja. Manusia memang sebagai mahluk yang aneh dikarenakan disatu pihak ia merupakan “mahluk alami”, seperti binatang ia memerlukan alam untuk hidup. Dipihak lain ia berhadapan dengan alam sebagai sesuatu yang asing ia harus menyesuaikan alam sesuai dengan kebutuh-kebutuhannya. Manusia dapat disebut sebagai homo sapiens, manusia arif memiliki akal budi dan mengungguli mahluk yang lain. Manusai juga dikatakan sebagai homo faber hal tersebut dikarenakan manusia tukang yang menggunakan alat-alat dan menciptakannya. Salah satu bagian yang lain manusia juga disebut sebagai homo ludens (mahluk yang senang bermain). Manusia dalam bermaian memiliki ciri khasnya dalam suatu kebudayaan bersifat fun. Fun disini merupakan kombinasi lucu dan menyenangkan. Permaianan dalam sejarahnya juga digunakan untuk memikat dewa-dewa dan bahkan ada suatu kebudayaan yang menganggap permainan sebagai ritus suci. (K. Bertens, Panorama Filsafat Modern, 2005)
   Marx menunjukan perbedaan antara manusia dengan binatang tentang kebutuhannya, binatang langsung menyatu dengan kegiatan hidupnya. Sedangkan manusia membuat kerja hidupnya menjadi objek kehendak dan kesadarannya. Binatang berproduksi hanya apa yang ia butuhkan secara langsung bagi dirinya dan keturunnya, sedangkan manusia berproduksi secara universal bebas dari kebutuhan fisik, ia baru produksi dari yang sesungguhnya dalam kebebasan dari kebutuhannya. Manusia berhadapan bebas dari produknya dan binatang berproduksi menurut ukuran dan kebutuhan jenis produksinya, manusia berproduksi mnurut berbagai jenis dan ukuran dengan objek yang inheren, dikarenakan manusia berproduksi menurut hukum-hukum keindahan. Manusia dalam bekerja secara bebas dan universal, bebas I dapat bekerja meskipun tidak merasakan kebutuhan langsung, universal dikarenakan ia dapat memakai beberapa cara untuk tujuan yang sama. Dipihak yang lain ia dapat menghadapi alam tidak hanya dalam kerangka salah satu kebutuhan. Oleh sebab itu menurut Marx manusia hanya terbuka pada nilai-nilai estetik dan hakekat perbedaan manusia dengan binatang adalah menunjukan hakekat bebas dan universal.(Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx, 1999).

2.2     Manusia dan Badannya

               Yang terang buat semua orang ialah, bahwa manusia itu adalah makhluk yang berbadan. Lihatlah saja, bagaimanakah manusia itu menjadi sadar, karena badan nya bersatu dengan realitas sekitar sehingga dia bisa bangkit, menempatkan diri, mengerti sana dan sini, bisa berjalan, bertindak dsb. Contohnya saja bila manusia cacat badannya mengurangi kesadarannya dan apalagi jika cacat itu merusak semua keinderaan, maka manusia juga tidak bisa mengerti dunia, jadi berkat badannyalah dia bisa menjalankan dirinya.
              
               Kemampuan manusia berdiri sendiri, bisa menghadapi orang lain dengan sadar itu dikatakan manusia mempunyai sifat. Atau bisa dikatakan manusia bersifat rohani, jadi seluruh saubjek manusia itu bersifat rohani, makna bersifat rohani itu bukan yang ada di dalam tubuh manusia, contohnya mata manusia berbeda dengan mata hewan, wajah manusia berbeda dengan wajah monyet.
               Manusia juga jasmani artinya materi, yang maknanya Dia berat atau ringan, berdarah dan berdaging bisa dilihat secara anatomi mirip dengan makhluk hidup lainnya. Juga kesenangannya, bahagianya, sukarianya tidak lepas dari barang materinya. Jadi seluruh kesatuan manusia adalah jasmani dan rohani. Jika kita bicara tentang badan sendiri, maka disitu pandangan kita memecah belah satu kesatuan, dengan hanya memandang dan menganggap seolah – olah badan itu ada tersendiri. Dalam realitas yang ada bukan badan melainkan manusia yang mempunyai asfek rohani dan jasmani.

Pada dasarnya manusia tidak di bedakan antara badan dan jiwa, Badan terdiri dari satu kesatuan yaitu jasmani dan rohani. Badan adalah bentuk konkrit dari kejasmanianku. Badan adalah manusia dalam bentuk jasmani, badan adalah wujud sebagai makhluk jasmani. Bolehkah badan kita sebut ”alat”? Boleh, asalkan jangan lupa, bahwa alat di sini tidak sama dengan alat biasa.

               Seluruh manusia adalah badani atau bodily. Sekarang kebadanian itu harus kita pandang. Asfek jasmani kita atau kebadanian kita dalam konkritnya berupa bentuk yang tertentu, ialah badan itu. Ini bias kita pandang dalam keadaan biologisnya atau sepanjang badan itu bentuk dari asfek jasmani kita. Dalam pandangan kita yang pertama kita melihat badan sebagai kesatuan biologis. Disitu terlihat suatu struktur yang terjadi dari banyak struktur yang tak terhingga jumlahnya. Di situ badan nampak sebagai bangunan dari sel – sel, bangunan ini mempunyai diferensiasi yang berupa organ-organ dengan fungsinya.Tetapi pandangan ini tidak boleh dipisahkan dengan pandangan badan sebagai asfek jasmani dari manusia. Dalam pandangan ini badan berupa tubuh atau diri fisik. Dalam pandangan ini asfek jasmani adalah penuh dengan asfek rohani. Keduanya itu tidak berdampingan, tetapi manusia adalah sekaligus jasmani dan rohani. Badan merupakan suatu sruktur hidup, berproses menurut hokum biologis.


      2.3    Hubungan Ruh dengan Badan  
Terdapat banyak teori  yang berkaitan dengan cara kejadian ruh. Hanya saja, di sini kami akan membahas dua teori yang penting.
1.    Teori Ruhaniyatul Hudus Ruhuniyatul Baqa’. Pendukung teori ini menyatakan bahwa hakekat ruh terkait dengan alam malakut (metafisik). Yakni, sebelum kejadian badan, ruh berada di alam malakut. Setelah kejadian badan, ruh menjadi tawanan badan dalam jangka waktu tertentu. Dan setelah manusia mati, ruh kembali lagi ke asalnya, yaitu ke alam malakut.
2.    Teori Jismaniyatul Hudus Ruhaniyatul Baqa’. Penggagas teori ini adalah Mulia Shadra. Ia mengatakan bahwa ruh bukan materi, juga tidak turun dari alam malakut ke alam natural. Akan tetapi, ruh terjadi dari evolusi substansial materi (takamul-e jauhari-ye madeh). Dengan penjelasan lain, ruh manusia muncul dari gerak substansial yang disebut dengan nafs natiqah (ruh yang berakal) dan ia abadi dan tidak musnah sepeninggal badan. Oleh karenanya, ruh adalah hasil dari evolusi natural. Oleh karena itu, kejadian ruh demikian ini di sebut dengan jismaniyatul hudus.


Dalam filsafat islam telah terbukti bahwa badan berperan sebagai perantara bagi aktivitas ruh. Aktivitas yang dilakukan oleh anggota badan pada hakekatnya sumbernya adalah ruh. Yakni melihat, mendengar, mencium dan berbicara semuanya terkait dengan ruh. Mata, telinga, hidung dan lidah hanya sekedar perantara untuk mengetahui segala masalah-masalah ini. Misalnya sebuah kacamata, orang yang penglihatannya lemah, ia menggunakan kacamata, lantas apakah kacamata itu sendiri yang melihat atau kacamata hanya sekedar perantara bagi mata? Jelas kacamata dengan  sendirinya tidak bisa melihat akan tetapi ia harus diletakkan di depan mata sehingga mata yang kerjanya adalah melihat dengan menggunakan kacamata ia bisa melihat sesuatu. Pada hakekatnya mata dalam contoh tersebut sama seperti ruh, dan telinga, mata dengan lidah seperti kacamata tanpa perantara. Ruh dengan perantara anggota badan bisa melakukan aktivitasnya dan sebaliknya tanpa ruh anggota tersebut tidak bisa berbuat apa-apa.
Ada teori lain yang mengatakan bahwa hakekat wujud manusia adalah ruh itu sendiri.Wujud manusia bukan komposisi dari badan dan ruh. Yakni, wujud manusia adalah ruhnya itu sendiri, bukan ruh sebagai satu bagian dari wujud manusia. Oleh karenanya, berdasarkan teori ini, antara ruh dan badan ada sejenis hubungan yg disebut dengan hubungan taktis ( ertebat-e tadbiri ), yang di dalam nya badan sebagai alat dan ruh sebagai pengelola.



      2.4    Hakekat Manusia

   Masalah manusia adalah terpenting dari semua masalah. Peradaban hari ini didasarkan atas humanisme, martabat manusia serta pemujaan terhadap manusia. Ada pendapat bahwa agama telah menghancurkan kepribadian manusia serta telah memaksa mengorbankan dirinya demi tuhan. Agama telah memamaksa ketika berhadapan dengan kehendak Tuhan maka manusia tidak berkuasa. (Ali Syariati, Paradigma Kaum Tertindas, 2001). Bagi Iqbal ego adalah bersifat bebas unifed dan immoratal dengan dapat diketahui secara pasti tidak sekedar pengandaian logis. Pendapat tersebut adalah membantah tesis yang dikemukanakn oleh Kant yang mengatakan bahwa diri bebas dan immortal tidak ditemukan dalam pengalaman konkit namun secara logis harus dapat dijatikan postulas bagi kepentingan moral. Hal ini dikarenakan moral manusia tidak masuk akal bila kehidupan manusia yang tidak bebas dan tidak kelanjutan kehidupannya setelah mati. Iqbal memaparkan pemikiran ego terbagi menjadi tiga macam pantheisme, empirisme dan rasionalisme. Pantheisme memandang ego manusia sebagai non eksistensi dimana eksistensi sebenarnya adalah ego absolut. Tetapi bagi Iqabal bahwa ego manusia adalah nyata, hal tersebut dikarenakan manusia berfikir dan manusia bertindak membuktikan bahwa aku ada. Empirisme memandang ego sebagai poros pengalaman-pengalaman yang silih berganti dan sekedar penanaman yang real adalah pengalaman. Benak manusia dalam pandangan ini adalah bagaikan pangging teater bagai pengalaman yang silih berganti. Iqbal menolak empirisme orang yang tidak dapat menyangkal tentang yang menyatukan pengalaman. Iqbal juga menolak rasionalisme ego yang diperoleh memlalui penalaran dubium methodicum (semuanya bisa diragukan kecuali aku sedang ragu-ragu karena meragukan berarti mempertegas keberadaannya). Ego yang bebas, terpusat juga dapat diketahui dengan menggunakan intuisi. Menurut Iqbal aktivitas ego pada dasarnya adalah berupa aktivitas kehendak. Baginya hidup adalah kehendak kreatif yang bertujuan yang bergearak pada satu arah. Kehendak itu harus memiliki tujuan agar dapat makan kehendak tidak sirna. Tujuan tersebut tidak ditetapakan oleh hukum-hukum sejarah dan takdir dikarenakan manusia kehendak bebas dan berkreatif. (Donny Grahal Adian, Matinya Metafisika Barat, 2001).
   Hakekat manusia harus dilihat pada tahapannya nafs, keakuan, diri, ego dimana pada tahap ini semua unsur membentuk keatuan diri yang aktual, kekinian dan dinamik, dan aktualisasi kekinian yang dinamik yang bearada dalam perbuatan dan amalnya. Secara subtansial dan moral manusia lebih jelek dari pada iblis, tetapi secara konseptual manusia lebih baik karena manusia memiliki kemampuan kreatif. Tahapan nafs hakekat manusia ditentukan oleh amal, karya dan perbuatannya, sedangkan pada kotauhid hakekat manusai dan fungsinya manusia sebagai ‘adb dan khalifah dan kekasatuan aktualisasi sebagai kesatuan jasad dan ruh yang membentuk pada tahapan nafs secara aktual. (Musa Asy’ari, Filsafat Islam, 1999)
Bagi Freire dalam memahami hakekat manusia dan kesadarannya tidak dapat dilepaskan dengan dunianya. Hubungan manusia harus dan selalu dikaitkan dengan dunia dimana ia berada. Dunia bagi manusia adalah bersifat tersendiri, dikarenakan manusia dapat mempersepsinya kenyataan diluar dirinya sekaligus mempersepsikan keberadaan didalam dirinya sendiri. Manusia dalam kehadirannya tidak pernah terpisah dari dunidan hungungganya dengan dunia manusia bersifat unik. Status unik manusia dengan dunia dikarenakan manusia dalam kapasistasnya dapat mengetahui, mengetahui merupakan tindakan yang mencerminkan orientasi manusia terhdap dunia. Dari sini memunculkan kesadaran atau tindakan otentik, dikarenakan kesadaran merupakan penjelasnan eksistensi penjelasan manusia didunia. Orientasi dunia yang terpuasat oleh releksi kritiuas serta kemapuan pemikiran adalah proses mengetahui dan memahami. Dari sini manusia sebagaiu suatu proses dan ia adalah mahluk sejarah yang terikat dalam ruang dan waktu. Manusia memiliki kemapuan dan harus bangkit dan terlibat dalam proses sejarah dengan cara untuk menjadi lebih. (Siti Murtiningsih, Pendidikan sebagai Alat Perlawanan, 2004).
Manusia dalam konsep al Quran mengunakan kensep filosofis, seperti halnya dalam proses kejadian adam mengunakan bahasa metaforis filosofis yang penuh makna dan simbol. Kejadian manusia yakni esensi kudrat ruhaniah dan atributnya, sebagaimana dilukiskan dalam kisah adam dapat diredusir menjadi rumus;
Ruh Tuhan + Lempung Busuk Manusia
Ruh Tuhan dan lempung busuk merupakan dua simbol individu. Secara aktual manusia tidak diciptakan dari lempung busuk (huma’in masnun) ataupun ruh Tuhan. Karena kedua istilah itu harus dikasih makna simbolis. “Lempung busuk” merupakan simbol kerendahan stagnasi dan pasifitas mutlak. Ruh Tuhan merupakan simbol dari gerak tanpa henti kearah kesempurnaan dan kemuliaan yang tak terbatas. Pernyataan al Quran manusia merupakan gabungan ruh Tuhan dan lempung busuk. Manusia adalah suatu kehendak bebas dan bertanggungjawab menempati suatu stasiun antara dua kutub yang berlawanan yakni Allah dan Syaitan. Gabungan tersebut menjadikan mansuia bersifat dialektis. Hal ini yang menjadikan manusia sebagai realitas dialektis. Dari dialektika tersebut menjadikan manusia berkehendak bebas mampu menentukan nasibnya sendiri dan bertanggung jawab. Manusia yang ideal menurut ‘Ali Syariati adalah manusia yang telah mendialektikakan ruh tuhan dengan lempung dan yang dominant dalam dirinya adalah ruh Tuhan.(‘Ali Syariati, Paradigma Kaum Tertindas, 2001


BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan

Dalam bahasa filosofi barat bagaimana antara hubungan fisik dengan mental, yang jelas pertemuan antara badan dan ruh, merupakan pertemuan dua hakekat yang sama, yaitu hakekat spiritual. Keduanya larut dalam alam kesatuan yang utuh. Apa yang terjadi dalam diri manusia, baik yang tampak fisik atau mental, adalah suatu kejadian yang tunggal yaitu diri manusia itu sendiri. Setiap kejadian yang terjadi pada diri manusia pasti serentak antara fisik dan mental. Ruh adalah energi kehidupan yang mengandung fungsi dasar kehidupan itu sendiri. Badan manusia secanggih apapun dan sesempurna apapun, jika tidak dialiri ruh hanya benda mati belaka. Jiwa adalah program aplikasi yang bisa menyebabkan seorang manusia memeiliki program dan fungsi sentral. Jiwa inilah yang menyebabkan seseorang berfungsi sebagai manusia seutuhnya. Badan manusia menjadi tempat dimana jiwa dan ruh berkumpul dan membuatnya terwujud sebagai makhluk manusia. Semua makhluk yang berbadan sudah pasti ber-ruh. Ruh yaitu potensi spiritual yang diberikan kepada manusia untuk meningkatkan kreativitas hidup dan melahirkan kebudayaan.

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan antara lain :
1. Sifat hakekat manusia merupakan ciri-ciri yang karakteristik yang secara prinsipil membedakannya dengan makhluk hidup lainnya.

2. Dimensi-dimensi kepribadian manusia memiliki sifat yang unik, potensial dan dinamis, yang terbagi menjadi 4 macam dimensi yaitu : keindividualan, kesosialan, kesusilaan dan keberagamaan.

3. Pengembangan dimensi manusia dapat dilakukan dengan 2 pendekatan pengembangan yaitu pengembangan yang utuh dan pengembangan yang tidak utuh.
        

      3.2    Keterbatasan   
              
               Ada beberapa keterbatasan yang penulis temukan dalam penyusunan makalah ini sehingga belum bisa mencapai sesuai yang diharapkan antara lain :
1.    Waktu yang pendek sehingga tidak banyak hal yang di ekspos pada makalah ini.
2.    Kesulitan mendapatkan bahan yang sesuai rekomendasi dosen pengajar sehingga penulis menggunakan buku referensi yang seadanya bahkan mayoritas diambil dari browsing di internet.
              
      3.3    Saran  

               Dengan mengetahui sifat hakekat manusia diharapkan seorang calon guru dapat memberikan pengajaran yang sesuai dengan landasan dan arah, sehingga tujuan untuk menumbuh kembangkan potensi kemanusiaan dapat dilakukan dengan tepat dan benar. Selain itu, seorang calon guru diharapkan mempunyai gambaran yang jelas siapa manusia yang sebenarnya.




BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

     

Dr.K.Bertens & Drs.A.A.Nugroho. 1989. Manusia dan Kebudayaan. Jakarta: PT. Gramedia.
           
Prof. Dr. N. Drijarkara S.J.. 1969. Filsafat manusia. Jakarta: Pustaka Filsafat.

ISLAT(Himpunan PelajarIndonesia Republik Indonesia) http://islamalternatif.net..                                                                                                                   .

           






 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar